Bawean : Antara Duka, Bahagia dan Tantangan

Menjelang sholat Jum'at sekitar jam 11.30an, 11 Ramadhon 1445 H/22 Maret 2024. Bumi Bawean bergetar oleh gampa bumi berkekuatan 6,9 s. Getaran ini berkesinambungan, kembali bergatar setalah selesai sholat Jum'at, dan pada sore harinya kembali bergetar membuat panik penduduk seantero Bawean. 

Semua penduduk bagian pesisir pantai berduyun-duyun mengungsi kedataran yang lebih tinggi khawatir terjadi sunami dan penduduk didataran tinggi juga telah meninggalkan rumah mereka khawatir gempa susulan yang lebih dahsyat, Gempa ini telah menelan korban Rumah warga, dan infrastruktur lainnya seperti Masjid, pendidikan dan fasilitas lainnya. 

Pulau Bawean jarang terjadi bencana yang dahsyat seperti ini, selama saya hidup di bumi bawaean belum perna se dahsyat ini, dulu perna terjadi  waktu saya masih kecil, tapi tidak membuat panik sampai histeris. Gempa bumi oleh orang Bawean disebut dengan istilah "LENDHU" bencana Alam di Bawean semakin kesini semakin kerap terjadi. banjir, Longsor kalau tidak salah pada tahun 2011 Banjir paling dahsyat sampai menelan banyak korban.

Bawean dulu penuh dengan religiusitas (keagamaan) yang tinggi anak muda rajin bekerja membantu orang tua ke sawah/ladang pada sore berangkat ngaji ke laggher (mushalla) paginya membantu kiyainya merumput atau mengambil kayu bakar di hutan. Dulu orang Bawean ketika merantau kemanapun Malaysia, Singapure atau ketempat lainnya selalu menjadi otoritas di lingkungannya karena dengan kebaikan akhlaknya, keramahan tatakramanya dan selalu dianggap orang pintar walaupun ilmunya tidak seberapa. 

Cerita ini tinggal kenangan perubahan begitu cepat, pemuda hari ini bukan pemuda yang dulu, perantau hari ini bukan perantau yang dulu. Jika saya melihat Justru sebaliknya. Sering terekspost orang Bawean tertangkap kerena prilaku asosila atau kejahatan yang meresahkan masyarakat, dan pemuda hari ini sering menunjukkan fenomena hilangnya rasa malu. 

Pulau Bawean dinegeri Jiran disebut Boyan dan nama lain juga disebut pulau putri, saat ini pulau yang indah ini tak lagi indah di luluh lantahkan oleh gempa bumi yang dahsyat hingga menelan korban tempat tinggal orang² Bawean.

Keindahan pulau Bawean tidak hanya dilihat dari fisik pulaunya, tetapi dilihat dari keindahan perilaku penduduknya, semua keindahan ini seakan telah lenyap ditelan prilaku sosial yang menunjukkan terkikisnya moral.

Secara teologis bencana terjadi bisa berupa  teguran, ujian bahkan adzab bagi penduduk yang lalai akan tanggung jawab sebagai Khalifah, "Sebagai pemimpin korupsi sudah dianggap sistem, anak muda tidak gaul dan tidak modern kalau menunjukkan kebaikan, dan wanita sudah dianggap biasa keluar malam. Secara Historis penduduk zaman dahulu yang diturunkan adzab karena penduduknya telah ingkar dan banyak maksiat kepada tuhannya. 

Fenomena rusaknya moral dan terkikisnya prilaku hilangnya takut dan malu kepada Allah SWT. dan Manusia. ini lah yang menyebabkan bencana diturunkan.

Wallahu A'lam bisshowab
12 Ramadhon 2445 H.
23 Maret 2024 M
Sebuah Analisa 
dan renungan : Dr. Izul Herman, M.Pd.I ( Ketua Tanfidziyah MWC NU Daun. Dosen STAIHA Bawean)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama